Laman

Selasa, 17 Maret 2009

Debeaking


Kejadian saling patuk kadang-kadang dijumpai dalam budidaya unggas. Meskipun tingkat mortalitas tidak besar, tapi kanibalisme yang ditimbulkan cukup mengganggu. Kanibalisme dalam bahasa umum diartikan sebagai memakan sesamanya. Dalam budidaya perunggasan kasus kanibal ternyata juga dijumpai. Kanibalisme sering muncul terutama pada ayam ras.

Penyebab Kanibalisme
Dengan seleksi genetik, kasus kanibal bisa diturunkan sampai diperoleh strain ayam yang lebih tenang. Secara genetik memang beberapa ayam lebih agresif sehingga secara alamiah kasus kanibal tetap ada. Keagresifan ayam ini juga bisa merugikan secara langsung terutama pada kandang yang telah lama atau sudah kurang bagus. Akibat daya berat ayam lama-kelamaan kemiringan lantai kandang menjadi tidak standar (melengkung). Ini mengakibatkan telur tidak bisa langsung menggelincir keluar. Akibatnya telur banyak yang pecah karena menjadi sasaran patukan si ayam. Kanibalisme juga dapat dipicu oleh suhu dan sinar. Pada kondisi udara yang terik dan panas, ayam akan lebih agresif. Suhu yang tinggi ini menyebabkan pelebaran kapiler pembuluh darah sehingga jengger dan kloaka (anus) juga lebih merah. Kloaka akan terbuka sebagai upaya ayam untuk menurunkan panas tubuhnya. Disisi lain warna merah ini merangsang ayam lain untuk mematuknya. Akibat patukan ayam lain, si ayam bisa berdarah dan pengeluaran darah ini semakin merangsang ayam lain tadi untuk terus mematuknya. Kejadian kanibal juga menjadi indikasi pada beberapa hal, misalnya keseimbangan gizi dalam pakannya. Kasus ini kebanyakan berhubungan dengan kandungan mineral dalam pakan. Mineral yang penting bagi ayam adalah kalsium, fosfor, mangan, yodium, besi, tembaga, kobalt, pontasium, sodium, selenium, klor dan sulfur. Salah satu mineral yang dibutuhkan ayam dalam jumlah banyak adalah kalsium dan fosfor. Semua bahan pakan ayam kecuali tepung daging, tepung tulang, dan tepung ikan hanya mengandung kalsium sedikit sehingga bisanya perlu menambah kalsium dalam ransum. Jumlah kalsium yang dibutuhkan harus berimbang dengan fosfor. Kebutuhan kalsium untuk anak ayam (umur 0-8 minggu) kurang lebih 1%dari pakan, sedangkan fosfornya (anorganik) sekitar 0,5%. Kebutuhan kalsium akan melonjak jika ayam mulai menghasilkan telur. Kerabang telur kurang lebih berisi 2 g kalsium. Oleh Karena itu ayam memerlukan asupan kalsium minimal 4 g/hari agar imbangan kalsium dalam tubuhnya tetap terjaga normal. Dari asupan kalsium setiap hari itu, sebanyak 50% digunakan untuk pembentukan kerabang dan sisanya disimpan. Efek langsung dari kekurangan kalsium bagi ayam adalah kerabang telur menjadi tipis dan produksi menurun bahkan berhenti. Faktor-faktor predisposisi yang dapat memunculkan kasus kanibalisme antara lain:
(1). Populasi terlalu padat (overcrowded).
(2). Cahaya yang terlalu banyak
(3). Temperatur terlalu tinggi
(4). Jumlah tempat pakan dan minum yang kurang
(5). Ketidakseimbangan pakan termasuk defesiensi mineral
(6). Pakan hanya berupa pellet/konsentrat
(7). Pakan yang tinggi kalori, kandungan serat yang rendah.
Jika ada kejadian kanibalisme, peternak perlu menanganinya dengan mengkarantina ayam dan memberikan obat antiseptik agar tidak terjadi infreksi dan menghentikan pendarahan. Guna menurunkan tingkat kejadian kanibalise, peternak dianjurkan memberikan perhatian yang lebih pada manajemen pemeliharaan sehingga bisa menghilangkan faktor-faktor predisposisi kanibalisme. Namun pada beberapa kondisi, kanibalisme hanya dapat dicegah dengan potong paruh.
Potong Paruh.
Potong paruh sangat membuat ayam stress sehingga harus dilakukan dengan hati-hati. Ini dapat dilakukan pada umur 1 hari atau umur-umur berikutnya. Namun jika dilakukan pada periode produksi akan mengakibatkan gangguan pada produksi telur. Selain untuk mencegah kanibalisme, potong paruh juga akan mengurangi pemborosan pakan. Umumnya DOC sudah dipotong paruhnya oleh perusahaan pembibit. Akan tetapi bila belum, potong paruh boleh dilaksanakan untuk menghindari pemborosan pakan pada umur 8 minggu. Sebelum potong paruh pastikan ayam benar-benar dalam keadaan sehat. Jangan dilakukan setelah vaksinasi karena tubuh ayam sedang tidak dalam kondisi prima akibat reaksi pascavaksinasi. Pemberian pakan dihentikan selama 12 jam sebelum. Tambahan vitamin melalui air minum dapat membantu menurunkan stres. Vitamin K juga boleh ditambahkan untuk membantu mengurangi pendarahan. Cara potong paruh:
(1). Sebaiknya dilakukan oleh tenaga yang sudah berpengalaman
(2). Potongan harus tegak lurus dengan sumbu paruh.
(3). Kurang lebih 1/3 panjangnya dari lubang hidung di pangkal paruh.
(4). Genggam ayam, letakkan ibu jari di belakang kepala ayam untuk memegangnya
(5). Gunakan alat potong yang tajam sehingga pendarahan tidak banyak dan paruh tidak rusak.
(6). Alat potong paruh khusus harus dikontrol suhunya agar hasilnya baik dan tidak merusak paruh.
(7). Bekas potongan diolesi dengan yudium atau disinfektan lain. Jika terjadi perdarahan bisa digunakan kalium Permanganat (PK) untuk menghentikannya.
(8). Sesudah proses potong paruh, lakukan kontrol agar ayam dapat makan dan minum dengan baik. Segera berikan pakan secara bebas setelah potong paruh.
Selama beberapa hari pertama tempat pakan diisi dengan tebal agar dapat membantu ayam mengatasi kesulitan makan. Pastikan ayam dapat makan dengan enak melalui kedalaman pakan yang memadai. Apabila perlu selama 3-5 hari, tambahkan beberapa jam ekstra penyinaran pada sore/malam hari agar jumlah asupan pakan sesuai standar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar